Pages

Thursday, May 17, 2012

Generasi pasca-NU dan Muhammadiyah

Generasi pasca-NU dan Muhammadiyah

Dengan tiga instrumen pendukung itu, sebenarnya optimisme untuk tumbuh dan berkembangnya sebuah generasi pasca-NU dan Muhammadiyah bukanlah mustahil. Generasi pasca-NU dan Muhammadiyah bila boleh saya elaborasi lebih jauh, selain tidak berpikiran sektarian, parokial, dan fanatis, juga merupakan generasi yang secara cermat mampu merespons masalah-masalah bangsa dengan segera, jernih dan tidak hitam putih. Mereka tidak berpikiran formalis, syari'ah.

Generasi pasca-NU dan Muhammadiyah yang didambakan merupakan generasi yang bisa dibilang telah melampaui hal-hal yang sifatnya ritualisme, baik ritualisme agama, apalagi ritualisme organisasi dan politik. Ritualisme agama hanya dipandang sebagai instrumen mendekatkan diri pada Tuhan, bukan dipandang sebagai yang paling asasi dari agama itu sendiri. Sementara itu, ritualisme organisasi dan politik bahkan ditinggalkan karena hanya akan menjadikan dirinya sebagai manusia kerdil, ingin menang sendiri, tidak melihat ada komunitas lain yang mungkin lebih baik atau bisa diajak bekerja sama, dan sebagainya.

Apabila generasi pasca-NU dan Muhammadiyah benar-benar terwujud, maka apa yang pernah ditakutkan akan adanya "pertobatan" massal oleh Muhammadiyah atas kaum nahdliyin tidak akan terjadi. Demikian pula, ejekan-ejekan dari kaum nahdliyin bahwa Muhammadiyah itu kering kebudayaan/tradisi dan wirid, tidak akan muncul. Bahkan, yang akan muncul di tengah masyarakat kita adalah generasi yang benar-benar mampu memberi rasa aman, damai, dan selamat sentosa atas sesama, bukan menebarkan ancaman.

Dengan terkuburnya sikap fanatis, parokial, dan sektarian, secara pasti akan terkubur pula fanatisme ritual organisasi dan politik. Dari sana yang akan berkembang adalah kerja sama antargenerasi, baik dari komunitas NU maupun Muhammadiyah. Bahkan, mungkin akan tumbuh kesadaran bersama untuk meleburkan diri dalam dua komunitas sekaligus. Suatu saat menjadi NU, tetapi pada saat yang sama bisa menjadi Muhammadiyah. Pendek kata, organisasi tidak lagi menjadi wahana percekcokan yang dibungkus ritual agama.

Recokan-recokan antar-organisasi politik maupun keagamaan seperti pernah terjadi saat Abdurrahman Wahid lengser, sebenarnya menjadi bukti betapa rendahnya mentalitas kita dalam berorganisasi dan berpolitik. Berorganisasi dan berpolitik tetap tidak memiliki kedewasaan berpikir dan bersikap sehingga mengharapkan berkembangnya demokrasi dari para politisi semacam itu jauh api dari panggang, untuk tidak mengatakan tidak mungkin.

Apa yang menjadi bagian penting dari generasi pasca-NU dan Muhammadiyah adalah kerja sama itu sendiri, baik kerja sama kultural maupun kerja sama struktural. Antara satu dengan yang lain tidak saling menjungkalkan, atau saling meniadakan. Bila generasi semacam ini benar-benar tumbuh, agaknya ketakutan adanya ancaman konflik yang muncul dari isu agama dalam Pemilu 2004 akan terminimalisir.

Politisi-politisi yang tetap akan "memakai isu agama" dalam Pemilu 2004 bisa dikatakan dengan tegas sebagai politisi kampungan, dengan harga yang amat murah; mereka tidak ada lain kecuali haus kekuasaan, dan akan mengadu domba antarsesama warga negara demi ambisinya. Tetapi, bila bangunan generasi pasca-NU dan Muhammadiyah benar-benar mapan, politisi-politisi model seperti itu pasti akan gigit jari; tidak laku. Maka, bersiaplah membangun generasi pasca-NU dan Muhammadiyah sejak sekarang, menuju Pemilu 2004; demi membangun bangsa ini lebih cerah dan sejahtera.

No comments:

Post a Comment