Pages

Saturday, July 14, 2018

Adanya isu Dien Syamsudin mau maju jadi Ketua NU, digoreng macam2. Pendapat qu, sebenarnya ada baiknya kalo masyarakat NU mau menerima kembali Dien. Memang Dien habitatnya NU. Dulu sewaktu Dien dinominasikan jadi Ketum Muhammadiyah juga mengundang pendapat macam2. Setelah kepilih, dia mempopulerkan dakwah kultural khas dakwah model NU. Dapat diterima umat. Ketegangan NU dan Muhammadiyah jadi cair.

Sejak Dien menjadi Ketum Muhammadiyah menanamkan persepsi tentang pentingnya dakwah kultural. Narasi NU masuk ke mainstream orang Muhammadiyah. Qunut shubuh tidak ditabukan lagi, memang qunut pernah dilakukan Nabi sewaktu suasana perang, kemudian tidak pernah dilakukan lagi. Ziarah kubur dibolehkan, memang Nabi pernah melarang, tapi kemudian membolehkan. Yasinan tidak dibid'ahkan, itu tradisi yang baik mengaji bersama, ajang silaturahim. Dsb.

Sekarang situasi NU sedang terbelah, sejak Muktamar NU yang terpilih Agil Siraj yang mengalahkan Gus Soleh (garis turun Kiai Wahid Hasyim). Sehingga muncul istilah NU Struktural dan NU Garis Lurus. Tentu ini tidak elok. Umat Islam akan rugi kalo NU pecah. NU telah menjadi aset sosial umat Islam di Indonesia. Tanpa ada NU dan Muhammadiyah, niscaya Islam tidak akan jadi mayoritas di negeri ini. NU mengislaman masyarakat lewat pendekatan kultural. Muhammadiyah melalui pendidikan dan pranata amal usaha sosial. Simbiosis. Saling melengkapi. Muhammadiyah dan NU dapat bersatu. NU harus dapat kembali menyatu. Kehadiran Dien yang juga tokoh NU, sekaligus juga tokoh Muhammadiyah, dan sekarang tokoh MUI, diharapkan akan membawa umat Islam bersatu. Itu kalo umat NU bisa menerimanya.

No comments:

Post a Comment